2012 Global Meltdown: Waspadalah!


20111230-040612.jpg

Judulnya memang mengerikan, namun bisa saja akan terjadi di beberapa negara luar negeri, dan Indonesia dapat merasakan dampaknya. Efek domino.

Akhir Desember 2011 ini, Presiden AS Obama meminta Congress untuk meningkatkan limit hutang AS menjadi US$ 16.4 Trillion dari US$ 14.2 Trillion. Permintaan penambahan hutang tujuannya untuk membayar hutang pemerintah kepada rakyat AS sendiri seperti Social Security, gaji pegawai pemerintah, gaji para militer, dll.

Ternyata AS juga banyak meminjam uang kepada negara-negara lain dengan jaminan US Treasures Securities/ surat hutang/ Bonds.

Berikut adalah 10 besar pemegang US Treasures Securities dengan sub-total sebesar 77%, dengan pembagian sebagai berikut:

China 26.4%, Japan 19.8%, UK 5.5%, Oil Exporters(1) 4.6%, Brazil 4.3%, Caribbean Banking Centers(2) 3.6%, Taiwan 3.5%, Russia 3.8%, Hong Kong SAR 3.1%, Switzerland 2.4%.

Sumber: U.S. Treasury (revisi dimulai Juni 2010, dan survey diselesaikan pada 28 February 2011)
1) Saudi Arabia, Venezuela, Libya, Iran, Iraq, the United Arab Emirates, Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Ecuador, Indonesia, Algeria, Gabon, and Nigeria
2) Bahamas, Bermuda, Cayman Islands, Netherlands Antilles, British Virgin Islands and Panama

Dan 23% dari negara lain.

Namun masalah hutang tidak hanya dialami oleh AS. Negar-negara Eropa, Asia, dan America Latin pun memiliki masalah yg sama.

Hutang gross dalam persentase dari PDB 2011:

Austria 82%, France 99%, Germany 85%, Russia 9%, Greece 130%, Republic of Ireland 93%, Italy 119%, Japan 204%, Netherlands 82%, Portugal 97%, Spain 74%, United Kingdom 94%, United States 100%, Asia(1) 41%, Central Europe(2) 29%, Latin America(3) 35%

Sumber: International Monetary Fund, World Economic Outlook (emerging market economies); Organization for Economic Co-operation and Development, Economic Outlook (advanced economies)
1) China, Hong Kong SAR, India, Indonesia, Korea, Malaysia, the Philippines, Singapore dan Thailand
2) The Czech Republic, Hungary dan Poland
3) Argentina, Brazil, Chile dan Mexico

Untuk Indonesia sendiri hutang dari PDB kurang lebih sebesar 20%.

Ternyata 2012 yang akan datang cukup mengerikan. Saya hanya ingin berbagi agar dapat mengingatkan teman-teman untuk berwaspada. Cobalah untuk mengurangi spending, dan lakukan investasi terhadap barang yang bersifat fisik, namun tidak dianjurkan untuk investasi terhadap barang fisik yg akan turun nilainya sejalan dengan berjalannya waktu.

Coba saja lakukan observasi terhadap Greece (Yunani) dan Italy baru baru ini. Coba juga perhatikan apa yang terjadi di Lybia Di tahun 2011 ini. Occupy Wall Street dan Occupy-occupy lainnya di seluruh dunia. Bahkan di AS sendiri sudah mulai banyak demo sporadis menentang Federal Reserve Bank, kurangi government spending, bail out terhadap Goldman Sachs, MF Global, dll.

Anda boleh percaya atau tidak. Artikel ini hanya sebuah analisa dan observasi saya dari berita, dan dari teman saya yang berada di AS. Bisa saja analisa saya salah dan bisa juga benar. Saya hanya menyaksikan trend yAng terjadi di dunia ini. Trend yang menunjukan Global Meltdown.

Maka ada sebuah kalimat berbunyi semacam ini “When there is a crisis, there is also an opportunity.” Perpindahan kekayaan justru akan terjadi di momen yg buruk seperti ini.

Advertisements

Tips dalam membangun sebuah brand bagi usaha kecil


Dari artikel saya sebelumnya mengenai “Pentingnya Brand Bagi Pengusaha Kecil. Studi Kasus: Muffine.” Anda dapat membaca mengapa Brand sangat penting untuk dibangun bagi pengusaha kecil dengan berbagai alasannya.

Mari kita bahas lagi tentang branding lebij jauh.

Branding adalah bagian dari business strategy. Dan brand bukanlah komunikasi.

Branding terdiri dari 4 faktor:

  • Kepribadian (Personality) : Apakah itu Fun, Serious, Smart, dll
  • Posisi (Positioning): Dimana posisi brand Anda terhadap para kompetitor Anda, dan apakah arti brand Anda di pasar (market) dan target konsumen Anda
  • Janji (Promise): Adalah janji yang Anda (brand) berikan kepada konsumen Anda
  • Kongruensi (Congruency): Ini adalah keselarasan yang Anda jaga sesuai dengan kepribadian, Posisi, dan Janji Anda yang harus dilakukan secara konsisten

Jadi apa definisi dari branding: Sebuah janji yang terbungkus dalam sebuah pengalaman (experience) dalam melakukan usaha dengan dan terhadap Anda – secara total

Untuk melihat tips dalam membangun sebuah brand bagi usaha kecil, lihat video berikut

Pentingnya Brand Bagi Pengusaha Kecil. Studi Kasus: Muffine


Saya ingin berbagi kepada teman-teman pengusaha kecil ataupun yang ingin menjadi pengusaha.  Saya sangat mendukung dan mendorong bagi teman-teman untuk menjadi pengusaha.

Kenapa?

Pada mulanya saya bekerja di BUMN, perusahaan swasta local dan kemudian asing. Saat itu saya bekerja untuk memberikan keuntungan bagi perusahaan dan sebagai imbalan saya mendapatkan gaji. Kalau saya menjadi pemilik perusahaan dan membuka lapangan pekerjaan. Berarti saya bisa memberikan pekerjaan buat minimal 20 karyawan. Tentunya usaha saya harus terus meningkat.

Kali ini saya akan berbagi mengenai pentingnya Brand bagi sebuah usaha. Seringkali pengusaha kecil beranggapan bahwa Brand tidak terlalu penting, dan sering kali saya mendengar “brand itu mahal” saya kan bukan Coca-Cola. Jika kita memiliki paradigma semacam ini, sampai kapanpun Brand Anda akan memiliki nilai rendah.

Kenapa?

Mari saya jelaskan mengenai “5 Hal Besar” yang harus dimiliki bagi sebuah perusahaan.

  1. Pertumbuhan: Setiap usaha harus berkembang, dari uang dan asset yang dimiliki oleh perusahaan
  2. Keuntungan: Dimana-mana usaha harus mendapatkan keuntungan bersih
  3. Aliran Uang (Cashflow): Kita harus dengan pintar mengatur arus kas keuangan dengan cara mempertahankan arus uang keluar dan masuk dengan benar. Tujuannya jangan sampai arus keluar lebih besar dari pada arus masuk. Saya rasa ini matematika biasa.
  4. Meningkatkan Nilai Aset: Dari poin 1 s.d. 3 diatas, kita harus dengan cerdik meningkatkan nilai aset. Seperti, memiliki kantor, ruko, dan aset lainnya yang nilainya meningkat dimasa akan dateng. dll
  5. Melindungi dan Menjual: Yang pasti usaha yang baik harus dilindungi sehingga akan sulit untuk diklaim oleh orang lain. Bagaimana dengan Menjual. Banyak orang berkata “usaha saya bagus sekali, buat apa saya jual.” Memang benar, namun kita harus mengetahui nilai perusahaan jika ingin dijual. Dari sini dapat terlihat apakan perusahaan Anda baik atau tidak. Apakah ada perkembangan nilai jual dari tahun ketahun. Contohnya detik.com yang terjual dengan nilai Rp 500M

Sekarang, apa hubungannya dengan Brand. Brand dapat mendongkrak nilai jual dengan bahan baku yang relative sama-sama saja.

Mari kita cari tahu definisi sebuah Brand:

  • Sebuah nama, istilah, tanda, simbol, atau desain, atau kombinasi dari mereka, dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari satu penjual atau kelompok penjual dan untuk membedakan mereka dari para pesaing
  • Adalah janji yang menciptakan preferensi
  • Aset yang menambahkan nilai finansial
  • Brand terletak pada pikiran dan hati dari pelanggan. Ini adalah hasil dari pengalaman total pelanggan yang membangun selama bertahun-tahun. (Chartered Institute of Management, 2003)

Mari kita bahas implikasi dari Brand yang kita dapat lihat di keseharian kita:

Contoh 1: Toyota dan Daihatsu dengan Avanza dan Xenia. Dengan spesifikasi sama. ke dua mobil ini bentuknya sama, bahan bakunya sama, interior sama, semuanya sama. Jika di kilokan, harga per kilogramnya akan sama. Namun mengapa harga jual Toyota Avanza lebih mahal dari Daihatsu Xenia? Nah disini artinya, Brand, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, dapat meningkatkan nilai jual.

Contoh lainnya: Pernah jalan2 ke hypermarket kan? Dibagian rempah-rempah coba cari lada dengan kemasan design dan logo menarik dan modern. Kemudian cari lada dengan bungkusan yang gaya kuno, jadul, gitu-gitu aja. Coba bandingkan, jika nilai beratnya sama, mana yang lebih mahal, dan mana yang lebih menarik dan membuat Anda lebih percaya dengan kemasan yang menarik dan modern. Bisa jadi selisih harga jauh sekali. Hanya menambahkan arti Brand dalam sebuah kemasan, harga dapat meningkat.

Mudah-mudahan 2 contoh diatas dapat memberi gambaran tentang dampak Brand terhadap konsumen dan nilai lebih yang didapatkan dari pemilik Brand dengan yang sebenarnya bahan bakunya sama.

OK…OK…Kalau saya mulai melek Brand bagaimana dengan beriklan, butuh dana besar sekali?

Untungnya, di era digital saat ini terutama dengan Social Media, Anda dengan mudah memanfaatkan secara Free alias Gratisan. Contohnya: Facebook, Twitter, Linkedin, Youtube, dan social media lainnya yang dapat kita dapatkan secara Gratis. Jika akan beriklan kebutuhan belanja Media khususnya melalui Social Media jauh lebih murah dibandingkan dengan konfensional. Saya bisa pastikan itu. Dan jangan khawatir, hampir semua orang jaman saat ini sudah pakai handphone berbasis internet,  bahkan Tablet dibawa kemana mana. Internet semakin murah dan mudah diakses. Jadi jangan takut, eranya sudah terbuka lebar dan perangkatnya semakin hari semakin murah.

Namun, harus berhati-hati, Social Media ini sangat dinamis dan dua-arah, jika ada keluahan, dengan mudah keluhan ini dengan cepat menyebar dalam hitungan detik. Maka manfaatkan dan juga jaga dengan baik-baik.

Saya sendiri, kebenaran, sangat antusias dengan Brand. Brand is my Passion. Saya sudah membantu banyak perusahaan kecil hingga besar untuk menciptakan brandnya. Jangan salah Brand untuk usaha kecil yang saya bantu, sebagai professional, tidak menawarkan harga selangit.

Brand yang saya lakukan tidak hanya design. Namun dimulai dengan analisa, observasi, research, konsep, dll. sehingga terciptanya sebuah Brand Strategy berikut design yang selaras dengan Brand Strategy tersebut.

Coba lihat contoh dibawah ini

Brand: Muffine

This slideshow requires JavaScript.

Jika ingin melihat beberapa Brand yang pernah saya kerjakan klik Disini 

Dengan menciptakan Brand yang baik dan terencana untuk saat ini dan dimasa akan datang, dan memanfaatkan Social Media yang benar. Seperti Muffine, dalam waktu kurang dari satu bulan penjualannya sangat diluar perkiraan…. luar biasa.

Mudah-mudahan tulisan ini dapat membuka wawasan bagi teman-teman yang ingin memulai menjadi pengusaha.

US Debt Crisis – 2012 is only for America


I think it’s going to affect everyone in the world! What is going to happen in the world in US, Europe, and China are pretty much the same. We cannot avoid it. But we can play along with it and observe what you can benefit from it.

World in US, Europe, and China are pretty much the same. We cannot avoid it. But we can play along with it and observe what you can benefit from it.

If you really pay attention in the video when it talks about “Inflation + Recession.” Inflation happens when you feel that the prices of goods and commodities become more and more expensive. This is because the value of the currency is weakening.

In order to solve Recession, government has to create jobs. So the government has to borrow money from the Fed (US Treasures has to issue IOU as collateral to the Fed). So the Fed print more paper currency out of thin air and give the money to government with Interest and then jobs are created. This means debt gets bigger and bigger, more and more currency circulates, and the inflation get worsen.

In the video also shows that US Debt is $ 14 trillion, and that Debt equal to the National GDP. But what I think it is more than that amount mentioned. Most governments in all countries never tell the truth.

So what do you think? Is your money (I like to call it toilet paper, sorry…) you save in the bank plus interest can save you from the Inflation? Perhaps, you are thinking that your savings + interest can overcome the rate of speed of inflation. Guess what you will go bankrupt if you think this way.

2012 is coming. It’s President’s election year. I don’t think the elected President is going to say “sorry guys we are bankrupt because we have too much Debt.” Instead, the president, will borrow more currency (that damn FIAT Currency) and the Debt becomes ultra big.

This moment, the crisis, or what ever you want calls it, a wealth transfer is happening. And it’s been going on already without you knowing it. I would suggest to do some research, and find out what you think is good for your investment.

Like Larry Bates, in his book The Money Masters: How International Bankers Gained Control of America (1998), said, “wealth is not destroyed, it is merely transferred”

This is only my opinion. I am no financial nor investment guru. I am not endorsing any financial institutions what so ever. You can believe me or not is entirely up to you.

Naming your brand, product, or service, there is a wide range of name types you may wish to consider


I want to share this discussion from Linkedin.com for Brand & Communication Group. And this is the topic that is arise. “When naming your brand, product, or service, there is a wide range of name types you may wish to consider. Is your brand name descriptive or evocative?”

See how I examine brand naming. And brand naming is not just descriptive or evocative (suggestive). It is more than those two.

Just read, my opinion. Here we go:

——————————-
Descriptive or evocative (suggestive)? Hmmm….ok! How do I examine them?

In my opinion, as always my way of developing brand naming, there are two methods of brand naming– related and unrelated.

First, a related brand naming can be accomplished by (1) reinforced the nature of the product/ service– i.e. American Airlines, (2) convey an abstract image– i.e. Alpine Water, (3) emphasize one or more attributes– i.e. Soft ‘n’ Dry deodorants. All these 3 are descriptive and evocative (suggestive).

Second, an unrelated brand naming can be accomplished by words that have little meaning or no connection with product being named or specifically created and have no dictionary meaning– i.e. Camel Cigarettes and Kodak.

Below is the sample on how you could name your brand. And let’s pretend it is an all purpose cleaner:
1. Descriptive, related brand naming: Clean All
2. Evocative (suggestive), related brand naming: Sparkle
3. Arbitrary, unrelated brand naming: Horizon
4. Coined, unrelated brand naming: Alcon

OK, I need to go deep on these naming categories. As I view, a descriptive, an evocative, and an arbitrary naming will result in a good recall. While a coined naming will result in a good recognition. Why? a recall requires reconstruction of target stimulus, while recognition requires matching with the stimulus with the information stored in the memory.

Now, try to hear these two namings, and feel the different. General Motors and Kodak. General Motor gives the ease of recall since both words are high frequencies (people frequently say these two words). While Kodak, it is a created name and have no dictionary meaning what so ever, but this name is so different and new to people, therefore it stored and stays in your memory that result in good recognition. Do you know what I mean? Hmmm….I hope so 🙂

Off course, a related and an unrelated naming have its up-sides and down-sides. So everything has its risk. so let’s take a look of those sides.

1. Related brand naming
a. Advantage:

  • May convey relevant product information, and can be seen as never-ending advertising, with a consistent message, for the product
  • Facilitates identification with the product category, and enhances brand awareness
  • It tremendously helpful in the the initial positioning
  • Inherently meaningful more appealing since many consumers do not examine much of information in their product decisions
  • May build equity when other brand associations existed in consumers memory

b. Disadvantage:

  •  It becomes restrictive and become burden to be extended to the other product categories

2. Unrelated brand naming
a. advantage:

  • Easily lies in the mind of the consumer with few exposures to marketing communications
  • Pose no constrains on the goods and services they can represents
  • Could be extended to other products without major difficulties

b. Disadvantage:

  • Often serves as a poor reminder for communication effects stored in memory

You see the up-sides and down-sides of both methods. When it comes to develop a brand naming, which method you are using depends on risks you would take. I personally consider that brand naming development the most frustrating phase. And I don’t like to do it by myself. You need more than just one brain to do this. Sort of brainstorming with your team.

Back, to the original questions, Descriptive or evocative (suggestive)? Well it is more than just those two. You should consider many possibilities. And hopefully, my sharing could lighten you up the brand naming development process that is frustrating.

 

What is more important, an identity or Image?


Both identity and image have critical relationship. When you are talking about Brand Identity, for some identity is a logo. but It’s more than that. It is all about the reality of who you are.

A Strategic identity should articulates of who you are, what you do, and why you matter the most to your key audiences. On the other hand an image is how you are though of (by the audiences). We need to know what the audience perceived about the brand.

Assuming your identity is measured higher than your image, you may have a very good product, services, and strong corporate culture, but your customers do not even know who you are, what you do, or why you are relevant to them. Or your building big image through advertising efforts, but your products and people don’t live up to their expectation, you may end up disappointing your customer.

The goal is to have a balance measure between identity and image. Measurement must be done in a periodical time.

Let’s think about your strategic identity again. Or do you have one? And if you want to know more about branding visit Whitespace page often. This is about sharing. I am sure many of you have better knowledge.

 

%d bloggers like this: