Media Sosial Sebagai Komunikasi Interaktif. Bukan Mainan!


Facebook, Twitter, YouTube, Linkedin, Blog, dll. adalah aplikasi terkini yang saat ini banyak digunakan sebagai medium untuk berinteraksi. Ada yang menganggap seperti mainan baru untuk berinteraksi dengan teman-temannya, ada pula sebagai medium untuk usaha.

Media sosial itu gratis-segratis-gratisnya, tapi bukan mainan dan bukan latah punya-punyaan! Saya akan mengulas sedikit mengenai dampak ketidak seriusan, ketidak tahuan, dan ketidak sadaran dalam pemanfaatan media sosial.

Dari data yang saya dapat. Ternyata pertumbuhan media sosial ini sangat cepat. Indonesia sendiri menduduki peringkat ke 3. Sungguh perkembangan yang sangat luar biasa. Bisa-bisa Indonesia menjadi peringkat 1. Apakah memang perkembangan ini bisa dibanggakan, atau apakah memang orang Indonesia kurang kerjaan. Populasi di Indonesia memang pada faktanya banyak sekali, tidak heran perkembangannya cukup dahsyat. Perhatikan saja iklan-iklan dari provider telpon genggam. Gratis Facebook, gratis Twitter, gratis, gratis, dan gratis. Ya memang semua media sosial gratis.

OK…saya menganggap positif.

Seringkali saya memperhatikan status teman-teman di Facebook dan timeline di Twitter bunyinya macam macam. Ada soal keluhan, cinta, agama, humor, jualan, kata bijak, kemarahan, frustasi, kritik, kesedihan, dll. Intinya apapun pikiran yang timbul saat itu langsung diutarakan. Tidak ada rem, tidak ada filter, benar-benar spontan, completely free flow. Dan lucunya ada pasangan yang berantem di Facebook dan Twitter. Hadddeeeuuuhhhh…. ada ada aja.

Sebenarnya tidak ada kata salah atau benar dalam mengutarakan apa yang ada dipikirkan kita saat itu juga. Namun harus hati-hati, menurut saya loh, dan terserah bagi Anda. Ada kutipan berbunyi bahwa “you are what you twit” apapun ungkapannya menentukan personal branding Anda.

Bayangkan jika si ‘A’ selalu menunjukan kata-kata frustasi terus menerus. Personal branding si ‘A’ adalah orang Stress. Teman-teman si ‘A’ dalam hitungan detik menanggapinya. Bayangkan jika si ‘A’ memiliki teman sebanyak 1000 orang, dan teman yang menanggapi juga memiliki ribuan teman juga. Ribuan bahkan jutaan orang akan membaca dan bisa-bisa seluruh dunia tahu bahwa si ‘A’ orang Stress.

Berarti ciptakan sendiri diri Anda. Si biang komplain, si biang becanda, si pemarah marah, dikit dikit cinta…semuanya terserah Anda.

Jadi perlu disadari bahwa social media adalah medium untuk berkomunikasi dua arah, dan langsung menyebar seluruh penjuru dunia dalam hitungan detik.

Nah bagaimana mengenai media sosial untuk urusan bisnis dikaitkan dengan media sosial pribadi?

Coba bayangkan jika si ‘A’, si orang Stress, adalah pemilik perusahaan ‘Y’ dan biasanya perusahaan menanamkan kultur-kultur tertentu yang memiliki nilai-nilai positif. Pertanyaannya apakah perusahaan ‘Y’ dan si ‘A’ dapat dipercaya jika orang Stress menjalankan bisnisnya. Hati hati karena Reputasi akan membangun Integritas, dan integritas akan membangun Kepercayaan–Reputation > Integrity > Trust. Se-simple ini, namun jagalah baik-baik.

Saat ini sudah banyak perusahaan besar, menengah, dan kecil menggunakan media sosial. Ada yang memanfaatkan dengan baik seperti contohnya Starbucks dan Blue Bird Group. Kedua contoh perusahaan ini sangat menggunakan media sosial secara serius, dan mereka sadar bahwa media sosial adalah medium komunikasi dua arah. Saat bersamaan media sosial digunakan sebagai medium promosi dan juga digunakan untuk menanggapi keluhan pelanggannya.

Promosi melalui media sosial memang langsung tertuju oleh customer, ini adalah manfaatnya. Namun bagaimana jika customer mendapatkan masalah. Pastinya media sosial akan digunakan untuk mengutarakan keluhannya dalam hitungan detik. Jika keluhan ini ditanggapi dengan serius dan langsung diberikan solusi, maka kekesalan akan segera mereda. Customer hanya ingin diperhatikan dan diberikan solusi jika menemukan masalah dan jangan disuruh menunggu terlampau lama.

Saya juga memperhatikan Starbucks dalam menggunakan media sosialnya. Penggunaanya sangat optimum. Bahkan customer dengan senang hati memberikan masukan positif bagi Starbucks. Contohnya, customer memberikan masukan mengenai jenis minuman baru bagi Starbucks menurut selera customer mereka. Kalau saya perhatikan, Starbuck mendapatkan masukan gratis yang dapat meringankan business developmentnya.

Nah sayangnya banyak perusahaan besar di Indonesia ini menggunakan media sosial hanya untuk komunikasi satu arah. Namanya saja sudah media sosial kok mereka ini tidak tanggap sama sekali ya!

Coba sekali-sekali perhatikan Facebook dan Twitter dari salah satu Operator Cellular di Indonesia. Saya perhatikan hanya promosi, promosi, promosi dan promosi. Tidak lain pemanfaatnya digunakan layaknya billboard, televisi, koran, dan media konvensional lainya yang hanya berfungsi sebagai medium komunikasi satu arah. Banyak keluhan hanya jadi pajangan Wall di Facebook. Keluhan tidak ditanggapi sama sekali. Jika menanggapi tanggapannya tidak solutif. Hanya memberikan nomer telpon customer service (seperti buang badan). Dan jika customer service dihubungi jawabannya berbunyi “keluhan saya tampung dan kami akan menindak lanjuti.” Dan ini seperti robot yang hanya bisa menjawab dengan kalimat yang sama.

Media sosial ini memiliki dua fungsi. Bisa-bisa salah dalam penggunaannya akan menjadi bumerang bagi pemiliknya. Personal maupun bisnis.  Maka gunakanlah dengan baik. Tidak ada salah dan tidak ada benar. Orang jahat pun bisa menggunakan dengan benar sesuai niatnya. Tapi orang tidak tanggap bisa menggunakannya dengan benar namun dampaknya salah.

Bagaimana kaitannya dengan Branding? Pahamilah dan manfaatkan media sosial secara serius dan benar. Media Sosial sangat bermanfaat dan menjadi jalur baru dalam penggunaan Strategi Branding dengan benar. Semua orang saat ini memiliki telpon genggam dan sudah tersambung dengan internet.

Mari kumpulkan jempol ‘Like’ sebanyak banyaknya. Tentunya jempol yang bermanfaat bagi orang-orang. Namun jempol ‘Like’ juga belum tentu menunjukan Anda disukai orang-orang. Bisa jadi sarkasme.

Advertisements
%d bloggers like this: